Sampailah pada hari yang telah disepakati bersama antara gue, si ibu dan bus tersebut, tanggal 5 Juli pukul 12.00 siang. Sumpah panas abis. Tapi bukan bus Indonesia namanya kalau nggak telat. Bus tersebut dateng jam setengah 1. Gue sebagai orang Indonesia asli dan tulen sangatlah mengerti hal tersebut, malah pernah tuh dulu, gue naik bus dari Jakarta ke Lumajang, bisa ditebak seberapa banyak jam yang terbuang gara - gara menunggu bus? Hampir 4 jam, gila aja, gue nunggu sendirian di terminal Rawamangun dengan keadaan gue yang notabene baru pertama itu naik bus dari Jakarta. Deg deg pyar deh rasanya, parno abis kalau diliatin orang, dalam pikiran timbullah "Ngapain sih tuh orang liat - liat gue, naksir? Tapi dia kan udah tua. Mau ngerampok? Mungkin. Tapi gimana dia bisa ngerampok di tempat umum begini. Pake hipnotis kali ya? Bisa jadi. Terus gue gimana dong? Lari? Aduuuh."
Back to the topic, gue naik bus tersebut yang telat itu dan menduduki urutan yang ke 28, artinya gue duduk di bangku yang berada pada urutan ketiga dari belakang dan hanya berjarak satu bangku dengan kamar mandi alias WC. Walhasil, perjalanan gue diwarnai bau sedap dari WC.
Bus yang biasa gue tumpangi itu hanya mem-fasilitas-i makan sekali, namun di bus tersebut ini gue mendapat 4 buah kupon makan. Dahsyat bukan? Sehari aja di rumah biasanya gue cuma makan 3 kali, nah ini 4 kali. Busyet dah, ini berkah apa musibah. Tapi ternyata setelah gue tanya sama salah satu ibu penumpang (kenapa sebutannya ibu penumpang? Karena dia adalah penumpang bus tersebut dan dia seorang ibu - ibu), dia bilang kalau kita bakal dapat makan 2 kali di bus tersebut, makan siang dan makan malam. Di setiap pemberhentian tempat makan, kita akan dimintai 2 kupon untuk setiap porsinya. Oh gitu tho!
-continued-
-continued-

0 comments:
Post a Comment