Monday, 30 January 2012

Amazing Journey Part 3

Di tempat duduk yang bernomor 28 itu gue hanya duduk sendiri karena nomor 27 yang ada disebelah kosong. Gue udah seneng tuh bisa duduk di dua bangku sendiri, kan lebih leluasa jadinya. Jam setengah 2, bus tersebut berhenti di sebuah tempat makan. "Pas banget nih, gue tadi berangkat belum makan siang, tapi udah minum antimo tadi sebelum berangkat, mampus deh, kan biasanya kalau mau minum obat makan dulu ya, lha ini gue minum obat dulu baru makan. Otak gue berpikir, "Mungkin nggak papa kali minum antimo tanpa makan dulu, soalnya di bungkusnya aku baca kalau obat itu bisa diminum 4 jam sekali, nah … nggak mungkinkan kita makan 4 jam sekali buat minum obat itu".  Pinter juga gue. Kali ini? Ehm…. Biasanya juga pinter kok. (ngarep.com)

Gue makan dengan lahapnya, kenapa lahap? Ya kan gue udah bilang tadi gue belum makan siang, it's mean I'm hungry. Makanan yang disajikan juga makanan yang biasa aja (emang mau minta makanan yang kayak gimana lo?), pake sayur lodeh, telor sama mie goreng, terus ada sambelnya. Karena gue yang pada dasarnya suka pedes, jadi gue ambil sambel sesendok (katanya suka pedes, tapi ambilnya cuma sesendok). Makanan sepiring habis dalam waktu 3 menit, cukup cepatlah untuk ukuran cewek. Selesai makan gue balik ke bus, jangan balik napa, ditinggal deh.

Lima belas menit setelah itu, naiklah 9 orang penumpang. Gue ulangi ya, naiklah 9 orang penumpang. Hah?! Banyak banget. Emang. Selidik punya selidik, ternyata mereka sekeluarga. Otak kanan dan otak kiriku berbincang - bincang.
 " Keluarga macam apa yang punya 9 anggota? "
"Keluarga bahagia kali."
"Kok keluarga bahagia?"
"Kan anaknya banyak."
"Terus hubungannya?"
"Kalau keluarga bahagia berarti mereka jarang bertengkar, jarang pisah ranjang, artinya mereka sering tidur seranjang (maksudnya suami istrinya, bukan anak - anaknya lho)"
"Lalu?"
"Kalau sepasang suami istri seranjang, apakah yang mereka lakukan?"
"Ohh…"
"Nah, itu!"
Perbincangan kedua otak gue ini terhenti saat gue menemukan suatu kenyataan bahwa mereka terdiri dari nenek - nenek, ibu - ibu, bapak - bapak dan anak - anak. Dengan begitu teori keluarga bahagia luntur sudah.


-to be continued-

0 comments:

Post a Comment